Kereta Api Cepat Bandung-Jakarta, China Yes, Jepang No
Indonesia menjatuhkan pilihan kepada
Cina dan meninggalkan proposal Jepang. Pejabat Indonesia menerangkan, Cina
terpilih karena berani memberi fasilitas pinjaman senilai 5 milyar Dolar AS
tanpa menuntut jaminan.
Tadinya, ada dua raksasa yang
memperebutkan proyek besar ini: Cina dan Jepang. Jerman juga ingin mengajukan
proposal, tapi kedua negara itu yang punya tawaran lebih berani. Pemerintah
Indonesia dan Presiden Jokowi sempat menunda keputusan itu untuk mempelajari
lebih baik lagi tawaran dari masing-masing negara.
Pemerintah Indonesia tadinya ingin
membangun layanan keretan api super cepat (150 km/jam), namun karena biayannya
terlalu tinggi lalu beralih ke kereta api kecepatan menengah.
Kereta api Cepat Ankara-Istanbul di
Turki (2014), konstruksi China Railway Construction Corporation Limited (CRCC)
Para analis ekonomi menyatakan, jika
berhasil, pemenang tender pertama dari Indonesia ini bisa punya prospek cerah
untuk mengerjakan proyek-proyek serupa di Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Tawaran Cina lebih menarik
Presiden Jokowi akhirnya memutuskan
memilih Cina untuk menjalankan proyek kereta api cepat, karena kondisi yang
ditawarkan Cina tidak terlalu memberatkan. Selain itu, Cina juga berjanji akan
melakukan alih teknologi lebih banyak ketimbang proposal dari Jepang.
"Pemerintah Cina punya
keberanian untuk tidak meminta jaminan dari Indonesia," kata Gatot
Trihargo, asisten deputi di Kementerian BUMN kepada kantor berita Reuters hari
Rabu (30/09/15).
"Sementara negara-negara lain
seperti Jepang dan Jerman meminta jaminan dari pemerintah, dan kami tidak mampu
ini karena anggaran kami terbatas," tambahnya.
Dengan memenangkan proyek penting
ini, Presiden China Xi Jinping dianggap cukup berhasil membentuk jalur
perdagangan penting bagi negara itu, sesuai dengan prinsip "Satu Jalur
Satu Jalan": Yaitu membangun jaringan pelabuhan, jalur kereta api dan
jalan tol yang nantinya bisa membantu perluasan kegiatan perdagangan, investasi
dan pengaruh politik di kawasan Asia.
Lobi Jepang sampai menit-menit
terakhir
Sampai menit-menit terkahir, Perdana
Menteri Jepang Shinzo Abe melakukan lobi-lobi kencang untuk memenangkan tender
kereta api cepat Jakarta-Bandung itu.
Kereta Api Cepat di Urumqi, kawasan
Xinjinag, Cina
Untuk Jepang, kekalahan proyek rel
ini merupakan satu kerugian cukup besar, terutama setelah upaya-menit terakhir
oleh Jepang untuk memberikan tawaran yang lebih baik dari Cina.
"Pemerintah Jepang masih
percaya bahwa proposal kami lebih baik dan paling layak," ucap Kijima,
pejabat Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. "Kami berharap, di masa depan
mereka akan lebih transparan dan adil," tambahnya.(sumber:www.dw.com)
Review artikel
Artikel diatas menerangkan bahwa Indonesia ingin membangun
proyek kereta api cepat dengan syarat –syarat yang disepakati oleh stageholder Indonesia.Disini
jepang dan cina bersedia sebagai kontraktor pembangunan proyek tersebut.kedua Negara
tersebut mempresentasikan kepada pemerintah Indonesia Apa saja yang mereka fasilitasi?.
Namun
Indonesia meminta prinsip saling menguntungkan diantaranya membangun kereta api
cepat dengan kecepatan (150 km/jam).syarat kedua proyek
harus dikerjakan dengan tepat waktu dan berbiaya murah.akhirnya Negara china
menyanggupi persyaratan dari Indonesia dan jepang tidak bisa menyanggupi
permintaan Indonesia atas biaya murah.
Tetapi
Indonesia juga meminta jepang untuk proyek lain selain dalam konteks ini.sikap
berbisnis yang dilakukan Indonesia sangat patut menggarisi bahwa biaya murah
bisa mengerjakan proyek besar tanpa mengorbankan anggaran yang besar dan disini
juga Indonesia berperan adil untuk membagi proyek dalam konteks yang berbeda
tanpa menghilangkan relasi bisnis yang penting dalam hal ini.
NAMA:MUH.
RIZKI FAJRIN
KELAS:4EA14
NPM :14212826




Tidak ada komentar:
Posting Komentar