Senin, 23 November 2015

TUGAS 3



Kereta Api Cepat Bandung-Jakarta, China Yes, Jepang No
Indonesia menjatuhkan pilihan kepada Cina dan meninggalkan proposal Jepang. Pejabat Indonesia menerangkan, Cina terpilih karena berani memberi fasilitas pinjaman senilai 5 milyar Dolar AS tanpa menuntut jaminan.
China CRH Bullet Train Schnellzug
Tadinya, ada dua raksasa yang memperebutkan proyek besar ini: Cina dan Jepang. Jerman juga ingin mengajukan proposal, tapi kedua negara itu yang punya tawaran lebih berani. Pemerintah Indonesia dan Presiden Jokowi sempat menunda keputusan itu untuk mempelajari lebih baik lagi tawaran dari masing-masing negara.
Pemerintah Indonesia tadinya ingin membangun layanan keretan api super cepat (150 km/jam), namun karena biayannya terlalu tinggi lalu beralih ke kereta api kecepatan menengah.
Hochgeschwindigkeitszug (CRCC)
Kereta api Cepat Ankara-Istanbul di Turki (2014), konstruksi China Railway Construction Corporation Limited (CRCC)
Para analis ekonomi menyatakan, jika berhasil, pemenang tender pertama dari Indonesia ini bisa punya prospek cerah untuk mengerjakan proyek-proyek serupa di Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Tawaran Cina lebih menarik
Presiden Jokowi akhirnya memutuskan memilih Cina untuk menjalankan proyek kereta api cepat, karena kondisi yang ditawarkan Cina tidak terlalu memberatkan. Selain itu, Cina juga berjanji akan melakukan alih teknologi lebih banyak ketimbang proposal dari Jepang.
"Pemerintah Cina punya keberanian untuk tidak meminta jaminan dari Indonesia," kata Gatot Trihargo, asisten deputi di Kementerian BUMN kepada kantor berita Reuters hari Rabu (30/09/15).
China Indonesien Widodo bei Xi Jinping
"Sementara negara-negara lain seperti Jepang dan Jerman meminta jaminan dari pemerintah, dan kami tidak mampu ini karena anggaran kami terbatas," tambahnya.
Dengan memenangkan proyek penting ini, Presiden China Xi Jinping dianggap cukup berhasil membentuk jalur perdagangan penting bagi negara itu, sesuai dengan prinsip "Satu Jalur Satu Jalan": Yaitu membangun jaringan pelabuhan, jalur kereta api dan jalan tol yang nantinya bisa membantu perluasan kegiatan perdagangan, investasi dan pengaruh politik di kawasan Asia.
Lobi Jepang sampai menit-menit terakhir
Sampai menit-menit terkahir, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melakukan lobi-lobi kencang untuk memenangkan tender kereta api cepat Jakarta-Bandung itu.
China Hochgeschwindigkeitszug in Urumqi
Kereta Api Cepat di Urumqi, kawasan Xinjinag, Cina
Untuk Jepang, kekalahan proyek rel ini merupakan satu kerugian cukup besar, terutama setelah upaya-menit terakhir oleh Jepang untuk memberikan tawaran yang lebih baik dari Cina.
"Pemerintah Jepang masih percaya bahwa proposal kami lebih baik dan paling layak," ucap Kijima, pejabat Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. "Kami berharap, di masa depan mereka akan lebih transparan dan adil," tambahnya.(sumber:www.dw.com)








Review artikel


Artikel diatas menerangkan bahwa Indonesia ingin membangun proyek kereta api cepat dengan syarat –syarat yang disepakati oleh stageholder Indonesia.Disini jepang dan cina bersedia sebagai kontraktor pembangunan proyek tersebut.kedua Negara tersebut mempresentasikan kepada pemerintah Indonesia Apa saja yang mereka fasilitasi?.
Namun Indonesia meminta prinsip saling menguntungkan diantaranya membangun kereta api cepat dengan kecepatan (150 km/jam).syarat kedua proyek harus dikerjakan dengan tepat waktu dan berbiaya murah.akhirnya Negara china menyanggupi persyaratan dari Indonesia dan jepang tidak bisa menyanggupi permintaan Indonesia atas biaya murah.
Tetapi Indonesia juga meminta jepang untuk proyek lain selain dalam konteks ini.sikap berbisnis yang dilakukan Indonesia sangat patut menggarisi bahwa biaya murah bisa mengerjakan proyek besar tanpa mengorbankan anggaran yang besar dan disini juga Indonesia berperan adil untuk membagi proyek dalam konteks yang berbeda tanpa menghilangkan relasi bisnis yang penting dalam hal ini.
NAMA:MUH. RIZKI FAJRIN
KELAS:4EA14
NPM   :14212826

Tidak ada komentar:

Posting Komentar