Jumat, 27 Maret 2015

REVIEW JURNAL BOSS

SEGMENTASI PASAR DAN ANALISIS DEMOGRAFI



Review
SEGMENTASI PASAR DAN ANALISIS DEMOGRAFI
                  Segmentasi pasar adalah suatu proses me-nempatkan konsumen ke dalam subkelom-pok yang memiliki respons yang sama terha-dap suatu program pemasaran (Cravens,1997).Menurut Rambat Lupiyoadi (2001), segmentasi pasar adalah membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang dibe-dakan menurut kebutuhan, karakteristik, atau tingkah laku, yang mungkin membu-tuhkan produk yang berbeda. Sedangkan Swastha (1997), segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar yang bersifat ho-mogen. Berdasarkan definisi diatas, seg-mentasi pasar dapat diartikan sebagai proses membagi pasar yang beterogen ke dalam kelompok-kelompok yang lebih ho-mogen, yang memiliki kesamaan kebutuhan atau karakteristik dan respons terhadap program pemasaran.
            Dari jurnal tentang segmentasi pasar dan analisis demografi,segmentasi pasar adalah proses menempatkan konsumen ke dalam sub-kelompok yang memiliki respons yang sama terhadap suatu program pemasaran,dan menurut saya analisis demografi adalah karakter statistik terhadap populasi manusia,analisis ini banyak di gunakan oleh berbagai profesi lainnya tetapi tidak terbatas untuk pemerintahan,penyedia makanan,retailer,kantor yang bersifat non-profit,layanan kesehatan dan insitusi keuangan.
            Contoh kasusnya:
Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001, menunjukkan bahwa dari 100 kematian, 25 diantaranya disebab-
kan oleh penyakit kardiovaskuler (25,6%) (cybermed.cbn.net.id) dan SKRT tahun 2002 menyebutkan bahwa penyakit kanker saat ini menjadi penyebab kema-tian ke-6 di Indonesia (www.depkes.go.id). Menurut pengamatan WHO selama 10 tahun terakhir jumlah penderita hipertensi yang dirawat di berbagai rumah sakit di Se-marang meningkat lebih dari 10 kali lipat (www.depkes.go.id). Lain lagi dengan stroke yang menjadi penyebab kematian pertama di rumah sakit sejak 1996 hingga 1999 (www.suaramerdeka.com), menjadi pem-bunuh nomor tiga di Indonesia setelah pen-yakit infeksi dan jantung koroner dan sekitar 28,5 persennya meninggal dunia (www.sinarharapan.co.id), serta sisanya cacat ringan maupun berat (yastroki.or.id).
Namun, sekarang ini masa rawat inap bisa dikelola menjadi semakin pendek karena selain akan mengurangi beban pasien, juga akan meningkatkan efisiensi kepada RS. Penelitian Lewin (1991) yang dikutip dari Suharyati (1998), menyimpulkan bahwa:
“Using home care in combination with in-patient treatment is less costly in all cases than simply using inpatient treatment. When the cost benefit analysis includes a quality of life factor, combination inpa-tient/home therapy has even greater sav-ing”.
Permasalahan yang terjadi adalah tidak siapnya keluarga untuk merawat pasien karena ketidaktahuan, ketidakmampuan atau ketidakmauan mereka untuk merawat pasien di rumah setelah pulang dari rumah sakit.
Menyikapi kondisi ini maka perawatan pasien di rumah dengan bantuan perawat atau tenaga kesehatan lain menjadi alter-natif yang terbaik. Seperti yang diutarakan Achmad Sujudi sewaktu masih menjabat sebagai Menkes, bahwa para lansia yang terpaksa harus tinggal di rumah karena le-mah atau pasca perawatan dan membu-tuhkan perawatan kesehatan dapat dibantu dengan "Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di rumah" yang biasa dikenal dengan Home Care (HC) (www.depkes.go.id). Hal senada juga disampaikan oleh Mamat Lukman (2004), bahwa RS tidak saja memberikan pelayanan yang bersifat kuratif namun juga bisa memberikan pelayanan yang kompre-hensif (promotif, preventif, dan rehabilitatif) kepada pasien yaitu dengan program Hos-
pital Home Care (HHC). Ditambahkannya pula bahwa melalui upaya ini RS akan me-maksimalkan bentuk pelayanan sampai ke tingkat perifer yaitu rumah pasien.
Trisnantoro (2005) juga menyetujui adanya HC yang diselenggarakan oleh RS seperti yang diutarakannya, “….Sebenarnya sangat menyenangkan kalau RS mempunyai bagian yang mengurusi pasien-pasien yang harus mendapat home care. Dengan adanya kelompok kerja ini maka keluarga pasien berhubungan dengan manajer RS dan mem-persiapkan paket perawatan di rumah se-cara menyeluruh. Hal ini dapat menghemat pengeluaran, dan keluarga pasien tidak terlalu berat menyiapkan segala sesuatunya”.
Semakin jelas kiranya bahwa perawatan yang berbasis rumah merupakan alternatif terbaik yang dapat dikembangkan untuk merawat pasien yang memerlukan perawa-tan lama karena terbukti banyak memberi-kan manfaat baik bagi pasien maupun RS. Beberapa rumah sakit di Jakarta ada yang sudah menyediakan pelayanan HC secara resmi dan ada diantaranya yang proaktif dalam mengenalkan HC ini pada masyara-kat baik melalui penyediaan leaflet HC di RS maupun pembuatan situs HC di internet. Begitu pula di kota Bandung ada RS yang sudah secara formal menyediakan pelaya-nan HC, salah satunya RS Al-Islam Bandung (RSAI).
Secara geografis RSAI yang terletak di wilayah Bandung Timur memiliki posisi yang sangat strategis karena secara kewilayahan merupakan daerah yang akan dikembangkan sebagai perkotaan. Sebagai RS swasta for profit yang tentu saja tidak meninggalkan unsur not for profit-nya, RSAI harus berkompetisi dengan RS lainnya yang semakin menjamur di kota Bandung. Saat ini RSAI masih menjadi market leader di Bandung Timur tetapi di masa mendatang akan bermunculan juga RS baru yang siap bekompetisi. Kompetisi yang terjadi akan semakin keras baik dengan RS swasta sendiri atau juga dengan RS milik pemerintah. Bahkan tidak menutup kemungkinan kompetisi akan terjadi dengan RS asing yang berada di kota Bandung karena persaingan global akan semakin terbuka lebar. Dengan banyaknya pesaing dan semakin mudahnya akses ke RS maka konsumen memiliki posisi tawar yang lebih tinggi. Mereka bebas memilih RS yang mampu memberikan pelayanan yang memuaskan, profesional, dengan biaya yang rasional. Oleh karena itu, RSAI harus punya competitive advantage dalam hal pelayanan yang bisa dibedakan dari kompetitornya.
Home Care RSAI didirikan tidak semata-mata hanya untuk memuaskan pelanggan melalui upaya pengobatan dan perawatan secara optimal dan profesional di rumah pasien, tetapi tentu saja diharapkan bisa memberi kontribusi positif terhadap RS. Kontribusi yang diharapkan bukan hanya pendapatan tetapi yang lebih penting adalah dapat mempertahankan atau dapat menarik pelanggan baru RS. Seperti yang diutarakan Kepala Urusan HC RSAI bahwa dengan pelayanan HC ini bisa mengikat dan juga menarik pelanggan baru.
Rumusan Masalah
1. 1.Berdasarkan kasus penelitian di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:
2. Bagaimana gambaran segmen pelanggan HC RSAI ditinjau dari faktor demografi (umur, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan, dan agama), geografi (daerah tempat tinggal), dan psikografi (persepsi dan preferensi)
3. Bagaimana gambaran segmen pasar potensial HC RSAI ditinjau dari faktor demografi (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan agama), geografi (daerah tempat tinggal), dan psikografi (persepsi dan preferensi)
4. Bagaimana target pasar HC RSAI yang paling sesuai bagi pengembangan HC ke depan
Dengan menggunakan segmentasi pasar,kasus di atas dapat terbagi secara efisien,dan efektif dari segi: Informan dan Sampel Penelitian,Analisis Segmen Pelanggan Hc RsaiBerdasarkan Faktor Demografi : dilihat dari Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Penghasilan, Agama dan Penyakit yang Diderita,dan Berdasarkan Faktor Psikografi.
Berdasarkan Informan dan Sampel Penelitian
Pemilihan informan berdasarkan kriteria kesesuaian dan kecukupan. Informan penelitian ini terdiri dari:
1. Kepala Bagian/Kasie Marketing RSAI
2. Kepala/Wakil Kepala Instalasi RI dan HC RSAI
3. Kepala Urusan HC
4. Perawat pelaksana dan petugas ad-ministrasi HC
5. Pelanggan HC yang menerima pelayanan HC (3 orang)
Analisis Segmen Pelanggan Hc Rsai
Berdasarkan Faktor Demografi : dilihat dari Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Penghasilan, Agama dan Penyakit yang Diderita
Sebagian besar umur pelanggan HC RSAI adalah usia >60 tahun (70,7%). Pasien lanjut usia (lansia) ini mendominasi pasien HC pada setiap bulannya. Data ini sesuai dengan Data proyeksi Lembaga Demografi Universitas Indonesia menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia (lansia) meningkat dari 8,4% pada tahun 2010, menjadi 10% pada tahun 2015, dan 11,4% pada tahun 2020 (www.bipnewsroom.info).
Jenis kelamin pelanggan HC RSAI lebih banyak laki-laki (56%) dibanding perempuan (44%). Data ini bertentangan dengan fakta bahwa jumlah laki-laki usia >60 tahun di kota Bandung lebih sedikit daripada jumlah perempuan pada usia yang sama (Survei Sosial Ekonomi Daerah/SSED 2005).
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini tentang pekerjaan pelanggan HC sebagian besar adalah IRT (36,6%) dan pensiunan (26,8%). Dalam penggolongan pekerjaan, IRT dan pensiunan ini digolongkan sebagai pekerjaan informal. Oleh karena itu dalam SSED 2005 tidak terdapat kategori pekerjaan ini.
Produk yang dibeli konsumen biasanya dipersepsikan erat hubungannya dengan penghasilan yang didapatkan orang tersebut. Pihak RSAI sendiri mempunyai kategori tersendiri terhadap kelas sosial pelanggannya berdasarkan penghasilan ini. Bagi yang berpenghasilan <1 juta dikategorikan sebagai kelas bawah, >1-2,5 juta sebagai kelas menengah, dan >2,5 juta merupakan kelas atas. Segmentasi pelanggan HC RSAI berdasarkan penghasilan menghasilkan sebagian besar (34,1%) berpenghasilan >1-2,5 juta, diikuti yang berpenghasilan >2,5-5 juta (22%), kemudian yang penghasilan >10 juta (19,5%), lalu yang penghasilan >5-10 juta (17,1%) dan yang paling kecil yang penghasilannya <1 juta (7,3%). Jadi kategori penghasilan pada pelanggan HC RSAI ini berada pada kelas menengah atas.
HC RSAI memberikan pelayanan HC yang Islami pada setiap pasiennya. Hasil segmentasi pada pelanggan HC menunjukkan bahwa semua yang mendapat pelayanan HC beragama Islam. RSAI sendiri tidak membatasi agama pasien, tetapi mereka mempunyai cita-cita agar umat Islam mau berobat dan bangga terhadap RS Islam. Hal ini dapat dipahami karena dengan membawa-bawa agama umumnya orang akan lebih sensitif. Segmentasi berdasarkan agama hanya dapat diterapkan pada komoditi tertentu yang pasarnya sangat sensitif terhadap simbol-simbol agama (Kasali, 1999).
Sebagian besar pelanggan HC menderita stroke (34,1%). Hal ini dipersepsikan karena mayoritas lansia mengalami penyakit degeneratif. Depkes juga menyebutkan bahwa peningkatan populasi lansia akan berkontribusi terhadap prevalensi penyakit degeneratif yang salah satunya adalah stroke. Tingginya angka kesakitan pada lansia tentu akan meningkatkan tingkat hunian RS, tetapi jika berlama-lama di rawat di RS tidak akan efektif. Oleh karena itu HC merupakan alternatif perawatan bagi yang perlu perawatan lama selain karena merasa nyaman berada di rumah juga bisa meringankan beban keluarga.
Segmentasi berdasarkan faktor geografi
pada pelanggan HC RSAI yang menempati urutan teratas yaitu Kecamatan Margacinta (36,6%), sedangkan sisanya daerah lain yang dekat dengan RSAI seperti Batununggal, Cibiru, Riungbandung, dan wilayah Bandung Timur lainnya. Hal ini dipersepsikan karena demand masyarakat terhadap pelayanan HC rendah, atau informasi tentang HC RSAI belum sampai ke masyarakat seperti data yang didapat dari pasar potensial HC bahwa sebagian besar (78%) pengunjung RSAI belum mengetahui tentang HC RSAI.
Berdasarkan Faktor Psikografi
Segmen pelanggan berdasarkan faktor psikografi pada penelitian ini terdiri dari kelas sosial dan gaya hidup yang teraktualisasi dalam persepsi dan preferensi mereka. Kelas sosial dan gaya hidup telihat dalam preferensi pelanggan dalam memilih kelas perawatan sebelumnya dan dalam penanggung biaya perawatan HC dan juga persepsi mereka terhadap pelayanan HC RSAI. Sebagian besar (29%) perawatan sebelumnya berasal dari ruangan VIP dan kelas I (24%) sedangkan untuk biaya penanggung perawatan pasien membayar sendiri (80%). Dari data ini dapat disimpulkan bahwa pelanggan HC RSAI berasal dari kelas menengah atas selain juga dilihat dari penghasilan mereka yang berpenghasilan lebih dari 1 juta ke atas. Menurut Setiadi (2003), kelas sosial dan gaya hidup mempunyai pengaruh yang kuat pada pemilihan barang-barang atau terhadap keputusan-keputusan dalam pemilihan kebutuhannya.
Dengan menggunakan segmentasi pasar, pelaku dan konsumen dapat keuntungan yang sama.sesuai dengan prosedur yang berlaku.dengan cara ini kasus yang seperti di atas, maupun yang lainnya dapat menentukan target dan klasifikasi secara tepat. 
Sumber:majalah ilmiah unikom vol 6 no 2,DADANG MUNANDAR



REVIEW JURNAL

Tema/ Topik              : Perilaku Konsumen
Masalah                      : Faktor-faktor apa sajakah yang berpengaruh terhadap perilaku konsumen dalam mengkonsumsi/ membeli buah, serta factor apa sajakah yang dominan berpengaruh ?.
Judul                          : Kajian faktor faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli /mengkonsumsi buah lokal.

Pengarang : Sudiyarto & Nuhfil Hanani

Latar Berlakang
            Pemahaman mengenai keinginan konsumen akan memungkinkan pemasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen, sehingga secara otomatis akan membeli apa yang ditawarkan oleh pemasar tersebut. Persaingan antar merek dan produk yang semakin ketat menjadikan konsumen memiliki posisi yang sangat berpengaruh dalam posisi tawar-menawar (Sumarwan, 2003). Pendekatan kecukupan pangan yang berorientasi pada produksi pangan hendaknya mulai digeser pada ketahanan pangan yang berorientasi pada ketersediaan dan daya beli masyarakat. Kebutuhan dan selera konsumen akan terpenuhi jika ketersediaan
produk dan daya beli masyarakat masih mampu mengatasinya.
            Usaha pemenuhan kebutuhan dan selera konsumen buah-buahan dapat dilihat dari semakin membanjirnya buah impor baik dari ragam maupun volumenya. Sumarwan (1999), mengemukakan bahwa membanjirnya buah impor pada saat sebelum krisis moneter telah memojokkan buah-buahan lokal., persaingan yang datang dari luar serta kebijakan pemarintah yang kurang kondusif menyebabkan banyak petani yang semakin terpuruk.
            Tetapi krisis moneter menyebabkan buah impor semakin mahal dan semakin berkurangnya stok di pasar. Memahami perilaku konsumen buah-buahan merupakan informasi yang sangat penting bagi pasar dari sektor agribisnis. Informasi ini diperlukan sebagai bahan masukan untuk merencanakan produksi, mengembangkan produk dan memasarkan buah-buahan dengan baik.



Masalah
            Faktor-faktor apa sajakah yang berpengaruh terhadap perilaku konsumen dalam mengkonsumsi/ membeli buah, serta factor apa sajakah yang dominan berpengaruh ?.

Tujuan
Tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
Menganalisis pengaruh faktor-faktor
  1. budaya
  2. lingkungan sosial;
  3. Individu
  4. Psikologis
  5. Strategi pemasaran terhadap perilaku konsumen dalam membeli/ mengkonsumsi buah lokal dan buah impor serta melihat faktor-faktor mana yang dominan.

Metodologi Penelitian
            Penelitian ini termasuk studi perilaku konsumen buah-buahan di kota Surabaya sekaligus menganalisis daya saing buah (lokal terhadap impor) atas dasar nilai sikap kepercayaan konsumen terhadap berbagai macam buah misalnya (apel; jeruk dan anggur). Sehingga lokasi penelitian ditentukan secara sengaja, sebaran lokasi penelitian adalah lokasi tujuan pemasaran buah dengan sasaran konsumen akhir, yaitu Kota Surabaya.
            Jumlah responden sebanyak 140 responden, ditentukan secara accidental yaitu mewawancarai konsumen buah dengan kriteria :
1). Penggemar (senang) makan buah-buahan;
2). Pembeli rutin buah minimal satu bulan sekali;
3). Mewakili keluarga
4). Keluarga memiliki penghasilan.

            Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan
menggunakan instrumen penelitian:
Analisis Data
Tujuan penelitian ini dianalisis dengan menggunakan Structural Equation
Model (SEM) yang juga dinamakan Model Persamaan Struktural (MPS) dengan
menggunakan piranti lunak (soft ware) AMOS.

Hasil Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa variable-variabel  
1). Pengaruh Budaya Terhadap Sikap Konsumen
2). Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Sikap Konsumen
3). Pengaruh Karakteristik Individu Terhadap Sikap Konsumen
4). Pengaruh Psikologis Terhadap Sikap Konsumen
5). Pengaruh Strategi Pemasaran Terhadap Sikap Konsumen.

Kesimpulan
            Beberapa kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sikap kepercayaan konsumen dalam membeli buah, menunjukkan bahwa :
1.                  Perubahan ‘budaya’ maupun peningkatan ‘psikologis’ konsumen, dapat meningkatkan secara nyata sikap-kepercayaannya dalam membeli /mengkonsumsi buah lokal.
2.                  Konsumen tidak perlu mempertimbangkan ‘Lingkungan sosial’-nya dalam membeli buah lokal dan peningkatan karakteristik ‘individu’ konsumen tidak menjadikan sikap kepercayaannya meningkat dalam membeli/ mengkonsumsi buah lokal.
3.                  Konsumen tidak merasakan adanya ‘Strategi pemasaran’ yang ditempuh perusahaan/ pemasar yang dapat mendukung meningkatkan ‘sikap-kepercayaan’-nya dalam membeli /mengkonsumsi buah local.

Saran :
1. Buah lokal perlu diperlakukan sebagai produk yang lebih dihargai di
negeri sendiri.
2. Daya saing buah lokal agar ditingkatkan melalui : strategi pemasaran
dan peningkatan atribut.








DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2001. Sektor Pertanian
sebagai Andalan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Buletin
Agroekonomi, Volume 1, Nomor 4, Agustus 2001. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, , Departemen Pertanian, Jakarta.


Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, 2002. Strategi Pengembangan
aya Saing Buah Unggulan Indonesia.. Bagian Proyek Pengembangan
Usaha Hortikultura Pusat. Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal
Bina Produksi Hortikultura. Jakarta.

Engel J.F; Blackwell R. D. dan P.W. Miniard , 1995. Perilaku Konsumen.
Translation of Consumer Behafior. Six Edition. The Dryden Press,
Chicago. Diterbitkan Binarupa Aksara Jakarta.

Ferdinand, A., 2002. Structural Equation Modelinga Dalam Penelitian
Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.

Hair Jr., Joseph F., Ralph E. Anderson and R.L. Tatham. 1992. Multivariate
Data Analysis. Third Edition. Macmillan Publishing Company. New York.

Kotler, P., 1993. Manajemen Pemasaran. Translation of Marketing
Management Analysis, Planning, Implematation, and Control. Sevent

Edition. Prentice Hall International Inc. Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.

Mangkunegara, AA, Ap., 2002. Perilaku Konsumen. Edisi Revisi. PT. Refika
Aditama, Bandung

Mowen, JC. dan M. Minor, 2002. Perilaku Konsumen. Edisi Ke-lima. Alih
Bahasa : Lina Salim. Penerbit erlangga, Jakarta.

Poerwanto, R., Susanto S., dan S. Setyati, H., 2002. Pengembangan Jeruk
Unggulan Indonesia. Makalah Semiloka Nasional Pengembangan Jeruk
Unggulan. Bogor 10 – 11 2002.

Poerwanto, R., 2003. Peran Manajemen Budidaya Tanaman Dalam
Peningkatan Ketersediaan dan Mutu Buah-buahan. Orasi Ilmiah Guru
Besar Tetap Ilmu Hortikultura. Fakultas Pertanian Bogor. Institut
Pertanian Bogor.

Solimun, 2002. Structural Equation Modeling Lisrel dan Amos. Fakultas MIPA
niversitas Brawijaya, Malang. Penerbit Universitas Negeri Malang,
______, 2004. Pengukuran Variabel dan Pemodelan Statistika. Aplikasi SEM
– AMOS dan Wasol. Fakultas MIPA & Program Pascasarjana Universitas
Brawijaya, Malang.



Simatupang P., 1990. Economic Incentives and Competitve Advantage in
Livesstocks and Feedstuffs Production : A Methodological Introduction.
Center of Agro Economic Research, Bogor.

Sumarwan, U., 1999. Mencermati Pasar Agribisnis. Melalui Analisis Perilaku
onsumsi dan Pembelian Buah-buahan. Majalah Agribisnis, Manajemen
dan Teknologi. Volume 5-No.3 November 1999. Magister Manajemen

Agribisnis, Institut Pertanian Bogor (IPB).
___________., 2003. Perilaku Konsumen, Teori dan Penerapannya Dalam
Pemasaran. Penerbit Kerja Sama : PT. Ghalia Indonesia dengan MMAInstitut
Pertanian Bogor.

Surya, 2004. Buah Impor Semakin Mendominasi. Harga di Surabaya Stabil. 15
September 2004. Penerbit Harian Surya Surabaya.







Jumat, 20 Maret 2015

PEREKONOMIAN DUNIA

Jelang 2015, konstelasi ekonomi global masih penuh dengan ketidakpastian, risiko pelemahan ekonomi global diprediksi akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi pada berbagai negara.

Gejala awal risiko pelemahan ekonomi global sejatinya dapat dicermati dari lambannya pemulihan ekonomi global, diindikasikan dengan laju pertumbuhan ekonomi pada berbagai negara maju yang masih rendah dan rentan, yang berpotensi "menekan" laju  pertumbuhan ekonomi negara-negara lainnya.

Perekonomian AS sebagai lokomotif ekonomi dunia, meskipun telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Namun tren pertumbuhan tersebut masih menurun bila dibandingkan dengan pada saat sebelum krisis global terjadi. Risiko yang perlu diwaspadai adalah dampak dari kenaikan  suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed, yang dapat memicu terjadinya arus modal keluar sekaligus berdampak pada melemahnya nilai tukar pada berbagai negara.

Kondisi ekonomi di kawasan Eropa dan Jepang juga setali tiga uang,  belum menunjukkan perbaikan dan masih terbilang rapuh, ancaman deflasi masih membayangi perekonomian di kedua kawasan tersebut. Pengangguran dan sektor industri Eropa masih belum pulih secara siginifikan, sementara kebijakan Abenomics masih belum memperlihatkan tanda-tanda memulihkan perekonomian Jepang.

Di sisi lain, Tiongkok yang menjadi salah satu penopang ekonomi global juga mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Jika pada 10 tahun terakhir ini pertumbuhan ekonomi Tiongkok selalu di atas 10 persen, maka saat ini pertumbuhannya hanya di kisaran 7,5 persen.

Perkembangan ekonomi global pada berbagai negara tersebut sudah barang tentu juga berdampak pada perekonomian Indonesia,  baik langsung maupun tidak langsung. Potensi gejolak likuiditas global akibat kebijakan exit policy kebijakan moneter longgar negara berkembang, akan memudahkan investor negara maju yang mau mengamankan dananya melalui kegiatan investasi.  Kemudahan itu juga yang membuat investor asing dengan mudah menarik dananya kembali, jika kondisi kembali menguntungkan. Hal ini akan membuat instabilitas di negara berkembang terutama pada pasar keuangan.

Bagi Indonesia, fluktuasi nilai tukar dan gejolak harga komoditas pasar global akan sangat berdampak pada neraca perdagangannya, bila tidak diantisipasi dengan baik, defisit neraca perdagangan akan semakin membengkak akibat ketergantungan yang tinggi terhadap importasi, yang akan terus menggerus ketahanan devisa.

Importasi yang perlu mendapat perhatian serius diantaranya pangan, sebagaimana yang kita ketahui,  impor pangan Indonesia periode Januari-Oktober 2014 telah masuk dalam tahap mengkhawatirkan, total nilainya telah mencapai USD6,6 miliar atau lebih dari Rp80 triliun.

Di samping itu, 2015 tampaknya menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan ekonomi Indonesia dalam mengatasi tingkat ketimpangan,  utamanya dengan melakukan percepatan "pembagian" kesejahteraan dalam bentuk yang lebih merata dan inklusif.

Meningkatnya Gini index Rtio (indeks pengukur tingkat ketimpangan) menjadi 0,41 menjadi titik fokus tersendiri untuk dapat diatasi melalui berbagai peningkatan pembangunan inklusif agar berkonstribusi dalam pemerataan pertumbuhan PDB.

Sebagaimana kita ketahui, tingkat pertumbuhan PDB yang ada, hanya didominasi oleh tiga provinsi dengan sumbangan terbesar, yakni DKI Jakarta 16,72 persen, Jatim 14,87 persen dan Jabar 14,17 persen.  Jika ditotal, maka tiga provinsi itu menyumbang 45,76 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, dengan kata lain  "kue ekonomi" sejatinya hanya terpusat di Pulau Jawa, diperlukan upaya ekstra agar PDB dapat terus ditingkatkan penyebarannya pada berbagai wilayah khususnya di luar Jawa.

Mengatasi ketimpangan pendapatan tampaknya menjadi agenda tersendiri untuk mendapatkan prioritas penanganannya pada 2015, mengingat "dampak yang signifikan secara statistik" pada pertumbuhan ekonomi.

Mengacu pada penelitian Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD).Di Inggris, ketimpangan pendapatan yang semakin tinggi membuat pertumbuhan ekonomi melemah, sekitar sembilan persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) antara 1990 dan 2010. Sedangkan di AS hampir tujuh poin. Hal ini membuktikan bahwa mengatasi ketimpangan yang tinggi penting untuk mendorong pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan, serta meminimalisir dampak sosial politik akibat kesenjangan yang berpotensi menganggu stabilitas nasional dan pembangunan ekonomi.

Jangan Kehilangan Momentum

Kita patut bersyukur permasalahan utama yang membelenggu ruang fiskal Indonesia, yakni besarnya subsidi BBM, telah mampu kita atasi. Hal ini setidaknya dapat menjadi starting point dalam memperbaiki tata kelola sistem penganggaran yang kondusif dalam memacu sektor produktif. Dengan ruang fiskal yang semakin lebar, seyogyanya 2015 dapat menjadi momentum bagi kita semua dalam menyukseskan berbagai pembangunan infrastruktur, yang diharapkan dapat memacu tumbuhnya berbagai sektor produktif dan mengatasi masalah kesenjangan pembangunan.

Kita juga tentunya berharap, melalui berbagai pembangunan infrastruktur dapat meningkatkan daya saing ekonomi, mengatasi masalah kesenjangan, dan mengurangi disparitas harga diberbagai wilayah, pembangunan infrastruktur  juga berperan peran vital dalam pemenuhan hak dasar rakyat.

Urgensi menyukseskan berbagai pembangunan infrastruktur  seyogyanya menjadi prioritas utama bagi seluruh pemangku kepentingan, mengingat memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan kesejahteraan sosial dan juga berperan penting dalam memacu proses pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau region.
Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan indikasi bahwa wilayah yang memiliki kelengkapan sistem infrastruktur yang berfungsi lebih baik dibandingkan dengan wilayah lainnya mempunyai tingkat kesejahteraan sosial dan kualitas lingkungan serta pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pula.

Dalam konteks ekonomi, infrastruktur merupakan modal sosial masyarakat (social overhead capital) yaitu barang-barang modal esensial sebagai tempat bergantung bagi perkembangan ekonomi,  dan merupakan prasyarat agar berbagai aktivitas masyarakat dapat berlangsung. Pembangunan infrastruktur merupakan katalisator di antara proses produksi, pasar dan konsumsi akhir. Keberadaan infrastruktur memberikan gambaran tentang kemampuan berproduksi masyarakat dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mungkin dicapai apabila tidak ada ketersediaan infrastruktur yang memadai, atau dengan kata lain infrastruktur adalah basic determinant atau kunci bagi perkembangan ekonomi. Keberadaan infrastruktur, telah terbukti berperan sebagai instrumen bagi pengurangan kemiskinan, pembuka daerah terisolasi, dan mempersempit kesenjangan antarwilayah.

Dengan demikian, investasi infrastruktur baik dari pemerintah maupun swasta dan masyarakat perlu terus didorong guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi sektor riil, penyerapan tenaga kerja guna mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta menumbuhkan investasi sektor lainnya.

2015 hendaknya dijadikan momentum dalam terus memperbaiki neraca perdagangan, dengan menekan defisit neraca perdagangan akibat importasi khususnya pangan pokok. Pengalaman telah memberi pelajaran akan pentingnya kedaulatan pangan karena sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, gejolak harga pangan sangat rentan dalam mempengaruhi tingkat kemiskinan.

Ketergantungan akan pangan impor akan sangat beresiko besar bagi bangsa Indonesia dengan kebutuhan pangan yang besar, tekanan ekternal akan berdampak luas di bidang sosial, ekonomi dan politik sehingga kedaulatan pangan tidak dapat ditawar-tawar lagi, sekaligus sebagai perwujudan kemandirian ekonomi. Tentunya kita berharap sinergitas dapat terus dioptimalkan dalam mengatasi tantangan meningkatkan daya saing produk pertanian dalam negeri, sekaligus memperbesar size produksi.

Peningkatan daya saing melalui peningkatan produktivitas, baik di budidaya, pengolahan, pemasaran,dan jasa penunjangnya di tingkat petani dan pelaku usaha. Peningkatan produktivitas merupakan sumber pertumbuhan yang baik untuk sisi produksi dan juga dapat memberikan nilai tambah yang utama dibandingkan dengan peningkatan areal maupun kapasitas ataupun ekstensifikasi.

Tantangan yang akan dihadapi oleh sektor pertanian Indonesia pada masa mendatang akan semakin berat sebagai dampak perubahan iklim global, pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi, persaingan perdagangan internasional dan liberisasi yang makin terbuka dan ketat. Suksesnya pembangunan sektor pertanian perlu mendapat dukungan seluruh pemangku kepentingan karena  memiliki elastisitas yang tinggi terhadap penciptaan lapangan kerja  dan juga efektif mengurangi ketimpangan.

Berbagai tantangan dan peluang pembangunan ekonomi yang kita hadapi di 2015 diharapkan dapat memacu kita untuk lebih memanfaatkan momentum dan mengoptimalkan upaya dalam menjamin percepatan pembangunan infrastruktur agar dapat memacu berkembangnya sektor ekonomi produktif, guna mengatasi masalah kesenjangan serta mempercepat terwujudnya kemandirian ekonomi.  Semoga.
paragraf ini menggunakan paragraf jenis induktif
nama:M RIZKI FAJRIN
kelas:3EA14
npm:14212826