Sabtu, 04 Oktober 2014

SEGMENTASI PASAR DAN ANALISIS DEMOGRAFI



Review

SEGMENTASI PASAR DAN ANALISIS DEMOGRAFI
                  Segmentasi pasar adalah suatu proses me-nempatkan konsumen ke dalam subkelom-pok yang memiliki respons yang sama terha-dap suatu program pemasaran (Cravens,1997).Menurut Rambat Lupiyoadi (2001), segmentasi pasar adalah membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang dibe-dakan menurut kebutuhan, karakteristik, atau tingkah laku, yang mungkin membu-tuhkan produk yang berbeda. Sedangkan Swastha (1997), segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar yang bersifat ho-mogen. Berdasarkan definisi diatas, seg-mentasi pasar dapat diartikan sebagai proses membagi pasar yang beterogen ke dalam kelompok-kelompok yang lebih ho-mogen, yang memiliki kesamaan kebutuhan atau karakteristik dan respons terhadap program pemasaran.
            Dari jurnal tentang segmentasi pasar dan analisis demografi,segmentasi pasar adalah proses menempatkan konsumen ke dalam sub-kelompok yang memiliki respons yang sama terhadap suatu program pemasaran,dan menurut saya analisis demografi adalah karakter statistik terhadap populasi manusia,analisis ini banyak di gunakan oleh berbagai profesi lainnya tetapi tidak terbatas untuk pemerintahan,penyedia makanan,retailer,kantor yang bersifat non-profit,layanan kesehatan dan insitusi keuangan.
            Contoh kasusnya:
Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001, menunjukkan bahwa dari 100 kematian, 25 diantaranya disebab-
kan oleh penyakit kardiovaskuler (25,6%) (cybermed.cbn.net.id) dan SKRT tahun 2002 menyebutkan bahwa penyakit kanker saat ini menjadi penyebab kema-tian ke-6 di Indonesia (www.depkes.go.id). Menurut pengamatan WHO selama 10 tahun terakhir jumlah penderita hipertensi yang dirawat di berbagai rumah sakit di Se-marang meningkat lebih dari 10 kali lipat (www.depkes.go.id). Lain lagi dengan stroke yang menjadi penyebab kematian pertama di rumah sakit sejak 1996 hingga 1999 (www.suaramerdeka.com), menjadi pem-bunuh nomor tiga di Indonesia setelah pen-yakit infeksi dan jantung koroner dan sekitar 28,5 persennya meninggal dunia (www.sinarharapan.co.id), serta sisanya cacat ringan maupun berat (yastroki.or.id).
Namun, sekarang ini masa rawat inap bisa dikelola menjadi semakin pendek karena selain akan mengurangi beban pasien, juga akan meningkatkan efisiensi kepada RS. Penelitian Lewin (1991) yang dikutip dari Suharyati (1998), menyimpulkan bahwa:
“Using home care in combination with in-patient treatment is less costly in all cases than simply using inpatient treatment. When the cost benefit analysis includes a quality of life factor, combination inpa-tient/home therapy has even greater sav-ing”.
Permasalahan yang terjadi adalah tidak siapnya keluarga untuk merawat pasien karena ketidaktahuan, ketidakmampuan atau ketidakmauan mereka untuk merawat pasien di rumah setelah pulang dari rumah sakit.
Menyikapi kondisi ini maka perawatan pasien di rumah dengan bantuan perawat atau tenaga kesehatan lain menjadi alter-natif yang terbaik. Seperti yang diutarakan Achmad Sujudi sewaktu masih menjabat sebagai Menkes, bahwa para lansia yang terpaksa harus tinggal di rumah karena le-mah atau pasca perawatan dan membu-tuhkan perawatan kesehatan dapat dibantu dengan "Perawatan Kesehatan Usia Lanjut di rumah" yang biasa dikenal dengan Home Care (HC) (www.depkes.go.id). Hal senada juga disampaikan oleh Mamat Lukman (2004), bahwa RS tidak saja memberikan pelayanan yang bersifat kuratif namun juga bisa memberikan pelayanan yang kompre-hensif (promotif, preventif, dan rehabilitatif) kepada pasien yaitu dengan program Hos-
pital Home Care (HHC). Ditambahkannya pula bahwa melalui upaya ini RS akan me-maksimalkan bentuk pelayanan sampai ke tingkat perifer yaitu rumah pasien.
Trisnantoro (2005) juga menyetujui adanya HC yang diselenggarakan oleh RS seperti yang diutarakannya, “….Sebenarnya sangat menyenangkan kalau RS mempunyai bagian yang mengurusi pasien-pasien yang harus mendapat home care. Dengan adanya kelompok kerja ini maka keluarga pasien berhubungan dengan manajer RS dan mem-persiapkan paket perawatan di rumah se-cara menyeluruh. Hal ini dapat menghemat pengeluaran, dan keluarga pasien tidak terlalu berat menyiapkan segala sesuatunya”.
Semakin jelas kiranya bahwa perawatan yang berbasis rumah merupakan alternatif terbaik yang dapat dikembangkan untuk merawat pasien yang memerlukan perawa-tan lama karena terbukti banyak memberi-kan manfaat baik bagi pasien maupun RS. Beberapa rumah sakit di Jakarta ada yang sudah menyediakan pelayanan HC secara resmi dan ada diantaranya yang proaktif dalam mengenalkan HC ini pada masyara-kat baik melalui penyediaan leaflet HC di RS maupun pembuatan situs HC di internet. Begitu pula di kota Bandung ada RS yang sudah secara formal menyediakan pelaya-nan HC, salah satunya RS Al-Islam Bandung (RSAI).
Secara geografis RSAI yang terletak di wilayah Bandung Timur memiliki posisi yang sangat strategis karena secara kewilayahan merupakan daerah yang akan dikembangkan sebagai perkotaan. Sebagai RS swasta for profit yang tentu saja tidak meninggalkan unsur not for profit-nya, RSAI harus berkompetisi dengan RS lainnya yang semakin menjamur di kota Bandung. Saat ini RSAI masih menjadi market leader di Bandung Timur tetapi di masa mendatang akan bermunculan juga RS baru yang siap bekompetisi. Kompetisi yang terjadi akan semakin keras baik dengan RS swasta sendiri atau juga dengan RS milik pemerintah. Bahkan tidak menutup kemungkinan kompetisi akan terjadi dengan RS asing yang berada di kota Bandung karena persaingan global akan semakin terbuka lebar. Dengan banyaknya pesaing dan semakin mudahnya akses ke RS maka konsumen memiliki posisi tawar yang lebih tinggi. Mereka bebas memilih RS yang mampu memberikan pelayanan yang memuaskan, profesional, dengan biaya yang rasional. Oleh karena itu, RSAI harus punya competitive advantage dalam hal pelayanan yang bisa dibedakan dari kompetitornya.
Home Care RSAI didirikan tidak semata-mata hanya untuk memuaskan pelanggan melalui upaya pengobatan dan perawatan secara optimal dan profesional di rumah pasien, tetapi tentu saja diharapkan bisa memberi kontribusi positif terhadap RS. Kontribusi yang diharapkan bukan hanya pendapatan tetapi yang lebih penting adalah dapat mempertahankan atau dapat menarik pelanggan baru RS. Seperti yang diutarakan Kepala Urusan HC RSAI bahwa dengan pelayanan HC ini bisa mengikat dan juga menarik pelanggan baru.
Rumusan Masalah
1. 1.Berdasarkan kasus penelitian di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:
2. Bagaimana gambaran segmen pelanggan HC RSAI ditinjau dari faktor demografi (umur, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan, dan agama), geografi (daerah tempat tinggal), dan psikografi (persepsi dan preferensi)
3. Bagaimana gambaran segmen pasar potensial HC RSAI ditinjau dari faktor demografi (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan agama), geografi (daerah tempat tinggal), dan psikografi (persepsi dan preferensi)
4. Bagaimana target pasar HC RSAI yang paling sesuai bagi pengembangan HC ke depan
Dengan menggunakan segmentasi pasar,kasus di atas dapat terbagi secara efisien,dan efektif dari segi: Informan dan Sampel Penelitian,Analisis Segmen Pelanggan Hc RsaiBerdasarkan Faktor Demografi : dilihat dari Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Penghasilan, Agama dan Penyakit yang Diderita,dan Berdasarkan Faktor Psikografi.
Berdasarkan Informan dan Sampel Penelitian
Pemilihan informan berdasarkan kriteria kesesuaian dan kecukupan. Informan penelitian ini terdiri dari:
1. Kepala Bagian/Kasie Marketing RSAI
2. Kepala/Wakil Kepala Instalasi RI dan HC RSAI
3. Kepala Urusan HC
4. Perawat pelaksana dan petugas ad-ministrasi HC
5. Pelanggan HC yang menerima pelayanan HC (3 orang)
Analisis Segmen Pelanggan Hc Rsai
Berdasarkan Faktor Demografi : dilihat dari Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Penghasilan, Agama dan Penyakit yang Diderita
Sebagian besar umur pelanggan HC RSAI adalah usia >60 tahun (70,7%). Pasien lanjut usia (lansia) ini mendominasi pasien HC pada setiap bulannya. Data ini sesuai dengan Data proyeksi Lembaga Demografi Universitas Indonesia menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia (lansia) meningkat dari 8,4% pada tahun 2010, menjadi 10% pada tahun 2015, dan 11,4% pada tahun 2020 (www.bipnewsroom.info).
Jenis kelamin pelanggan HC RSAI lebih banyak laki-laki (56%) dibanding perempuan (44%). Data ini bertentangan dengan fakta bahwa jumlah laki-laki usia >60 tahun di kota Bandung lebih sedikit daripada jumlah perempuan pada usia yang sama (Survei Sosial Ekonomi Daerah/SSED 2005).
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini tentang pekerjaan pelanggan HC sebagian besar adalah IRT (36,6%) dan pensiunan (26,8%). Dalam penggolongan pekerjaan, IRT dan pensiunan ini digolongkan sebagai pekerjaan informal. Oleh karena itu dalam SSED 2005 tidak terdapat kategori pekerjaan ini.
Produk yang dibeli konsumen biasanya dipersepsikan erat hubungannya dengan penghasilan yang didapatkan orang tersebut. Pihak RSAI sendiri mempunyai kategori tersendiri terhadap kelas sosial pelanggannya berdasarkan penghasilan ini. Bagi yang berpenghasilan <1 juta dikategorikan sebagai kelas bawah, >1-2,5 juta sebagai kelas menengah, dan >2,5 juta merupakan kelas atas. Segmentasi pelanggan HC RSAI berdasarkan penghasilan menghasilkan sebagian besar (34,1%) berpenghasilan >1-2,5 juta, diikuti yang berpenghasilan >2,5-5 juta (22%), kemudian yang penghasilan >10 juta (19,5%), lalu yang penghasilan >5-10 juta (17,1%) dan yang paling kecil yang penghasilannya <1 juta (7,3%). Jadi kategori penghasilan pada pelanggan HC RSAI ini berada pada kelas menengah atas.
HC RSAI memberikan pelayanan HC yang Islami pada setiap pasiennya. Hasil segmentasi pada pelanggan HC menunjukkan bahwa semua yang mendapat pelayanan HC beragama Islam. RSAI sendiri tidak membatasi agama pasien, tetapi mereka mempunyai cita-cita agar umat Islam mau berobat dan bangga terhadap RS Islam. Hal ini dapat dipahami karena dengan membawa-bawa agama umumnya orang akan lebih sensitif. Segmentasi berdasarkan agama hanya dapat diterapkan pada komoditi tertentu yang pasarnya sangat sensitif terhadap simbol-simbol agama (Kasali, 1999).
Sebagian besar pelanggan HC menderita stroke (34,1%). Hal ini dipersepsikan karena mayoritas lansia mengalami penyakit degeneratif. Depkes juga menyebutkan bahwa peningkatan populasi lansia akan berkontribusi terhadap prevalensi penyakit degeneratif yang salah satunya adalah stroke. Tingginya angka kesakitan pada lansia tentu akan meningkatkan tingkat hunian RS, tetapi jika berlama-lama di rawat di RS tidak akan efektif. Oleh karena itu HC merupakan alternatif perawatan bagi yang perlu perawatan lama selain karena merasa nyaman berada di rumah juga bisa meringankan beban keluarga.
Segmentasi berdasarkan faktor geografi
pada pelanggan HC RSAI yang menempati urutan teratas yaitu Kecamatan Margacinta (36,6%), sedangkan sisanya daerah lain yang dekat dengan RSAI seperti Batununggal, Cibiru, Riungbandung, dan wilayah Bandung Timur lainnya. Hal ini dipersepsikan karena demand masyarakat terhadap pelayanan HC rendah, atau informasi tentang HC RSAI belum sampai ke masyarakat seperti data yang didapat dari pasar potensial HC bahwa sebagian besar (78%) pengunjung RSAI belum mengetahui tentang HC RSAI.
Berdasarkan Faktor Psikografi
Segmen pelanggan berdasarkan faktor psikografi pada penelitian ini terdiri dari kelas sosial dan gaya hidup yang teraktualisasi dalam persepsi dan preferensi mereka. Kelas sosial dan gaya hidup telihat dalam preferensi pelanggan dalam memilih kelas perawatan sebelumnya dan dalam penanggung biaya perawatan HC dan juga persepsi mereka terhadap pelayanan HC RSAI. Sebagian besar (29%) perawatan sebelumnya berasal dari ruangan VIP dan kelas I (24%) sedangkan untuk biaya penanggung perawatan pasien membayar sendiri (80%). Dari data ini dapat disimpulkan bahwa pelanggan HC RSAI berasal dari kelas menengah atas selain juga dilihat dari penghasilan mereka yang berpenghasilan lebih dari 1 juta ke atas. Menurut Setiadi (2003), kelas sosial dan gaya hidup mempunyai pengaruh yang kuat pada pemilihan barang-barang atau terhadap keputusan-keputusan dalam pemilihan kebutuhannya.
Dengan menggunakan segmentasi pasar, pelaku dan konsumen dapat keuntungan yang sama.sesuai dengan prosedur yang berlaku.dengan cara ini kasus yang seperti di atas, maupun yang lainnya dapat menentukan target dan klasifikasi secara tepat. 

Sumber:majalah ilmiah unikom vol 6 no 2,DADANG MUNANDAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar